Minggu, 16 Agustus 2009

M E R D E K A ! ! !

Kata itu dengan lantang dan cekatan bisa kita ucapkan hari ini..
Apakah kita tahu 64 tahun lalu, sebelum hari ini.
Kata itu seakan kata jimat menjemput kematian..
Bahkan untuk memperoleh dan bisa mengucapkan kata itu.
Beratus bahkan beribu atau malah berjuta-juta pejuang mengorbankan segala harta dan jiwanya.

Sedikit cerita dari kakekku.
Secuil asa dari mantan seorang pejuang..
Yang sewaktu berjuang memegang senjata bambu runcing,
dan tak pernah memikirkan balasan apa yang akan diminta pada anak cucu atau generasi selanjutnya.

Mengatur strategi setiap hembusan nafasnya,
Memutar otak disetiap langkahnya,
Bersiap siaga menjemput kematian,
Hanya satu tekadnya untuk mewujudkan kata "M E R D E K A"

Setiap hari menyusuri hutan guna menemukan markas penjajah,
makan seadanya, yang ditemui di perjalanan,
rindu pada keluarga yang ditinggal di rumah,
ditepisnya dengan ujung tombak bambu runcing,
tidur berselimut langit dan beralas bumi.
Itu semua untuk sebuah kata "M E R D E K A"

Bukan hanya orang per orang yang memperjuangkan kata-kata itu.
Mungkin orang-orang itu kebetulan berada pada posisi yang lebih dikenal masyarakat pada waktu itu.
Pejuang yang sesungguhnya adalah pejuang yang gugur dalam pertempuran tanpa ada yang tahu siapa dia.
Pejuang yang sesungguhnya adalah pejuang yang rela menghuni jerusji besi demi kata-kata "M E R D E K A"
Pejuang yang sesungguhnya adalah pejuang yang mengorbankan segala yang beliau punya untuk kata-kata "M E R D E K A"

Apakah kita tahu betapa berat perjuangan itu?
Apakah kita tahu betapa berat mencapai ini smua?
Sudahkah kita membalas segala perjuangan itu?
Sudahkah kita meneruskan perjuangan itu untuk mempertahankan kata-kata "M E R D E K A"?

Renungan untukku dan teman-temanku.
Bahwa demi kata "M E R D E K A", para pejuang rela mengorbankan nyawanya.
Apakah patut kita hargai dengan hanya mengikuti upacara?
Apakah patut dihargai perjuangan itu hanya dengan berlomba-lomba makan kerupuk?

Salam takzim dan penuh rasa terima kasih untuk kakekku dan teman-teman beliau para pejuang.
S A L A M M E R D E K A ! ! !

Q 'n teman2 Q

Aku sangat suka hujan...
Aku suka suasana setelah hujan.
Dingin, segar, sejuk dan becek.
entah kenapa aku suka itu semua..

Temanku lain lagi.
Setiap hujan dia selalu menunggu petir.
Dia suka petir.
Aneh, tapi itu yang temanku suka.

Temanku yang satu lagi
Dia suka pelangi
Setelah hujan dia selalu menanti pelangi.
Indah, tapi entahlah apa alasannya.

Setiap orang memiliki kesukaan yang berbeda-beda.
Selama waktu berlalu kesukaan itu juga berbeda.
Oleh satu atau dua hal dalam hidup dan kehidupan selalu ada perbedaan.
Entah itu kecil ataupun besar.
Dan perbedaan itu pula yang sering mengkotak-kotakkan, mengelompok-kelompokkan makhluk hidup.
Padahal adanya perbedaan itu indah.
Hari ini bukti bahwa perbedaan itu indah.
Karena perbedaan itulah
aku memahami sifat-sifat teman2ku
Aku bisa belajar dari mereka
Aku bisa mengambi hikmah dari mereka
Aku bisa mempelajari kehidupan yang lain.
Aku bisa tahu keadaan dan kondisi sesuatu diluar jangkauanku.

Seperti panas setelah hujan.
Di setiap apa yang kutemukan selalu ada awal dan akhir.
Seperti tawa setelah tangis.
Setiap ujung pasti ada pangkalnya.
Setiap sedih pasti ada bahagia.

Thanks teman.
Untuk segala pengalaman kalian.
Untuk segala curhat kalian.
Untuk segala keluh kesah kalian.
Walaupun ku tak bisa membantu banyak.
Mendengarkan kalian pun ku serasa mengalaminya.
Ku kan selalu berusaha memberikan senyumku untuk kalian.
Walaupun itu tak membantu apa-apa.