My. Family's
Suatu sore, berkumpul dengan kakek dan sepupu-sepupuku di beranda rumah kakek.
Sore itu, sengaja kami berkumpul, karena kakek sakit.
Senengnya bisa berkumpul,bisa melepas kangen. Karena jarang banget bisa kumpul sama keluarga besar dari ayah.
Kakek juga terlihat seneng banget. melihat cucunya yang super bandel-bandel ini.
Hehehe.... termasuk yang cerita ini.
Sore itu, kakek mau cerita sesuatu. Bertepatan Hari Sumpah Pemuda kemarin.
Perlu tahu aja. Cucu kakekku lengkap. Ada yang sudah kerja, ada yang mahasiswa, ada yang masi SMA, ada juga yang SMP, SD, bahkan masih TK.
Sayangnya yang TK gk ikut gabung. Walaupun ikut gabung kayaknya gak mungkin ngerti.
Kakek cerita dulu waktu Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, kakek sudah berumur 10 tahun. (Berarti kakek sekarang umur 91 tahun dan masih sehat, alhamdulillah).
Wow, fantastis, alhamdulillah masih diberikan umur untuk bercerita pada kami.
Pertama-tama, kami antusias mendengar cerita kakek, malahan sering kami bertanya keadaan waktu itu dimana dan bagaimana. Kakek pun tambah bersemangat bercerita perjuangannya waktu menjadi pejuang.
Entah karena apa, aku sibuk dengan Facebook seluler q, dan ternyata saudara-saudaraku yang lain juga sama. Sibuk dengan Handphone masing-masing, ada yang sms, telp, chat, bahkan FB.
Termasuk diriku.
Akhirnya kakekku tersadar bahwa cucu-cucunya tak memperhatikan beliau lagi.
Dengan nada menyindir beliau berkata,
" Jangankan disuruh berjuang melawan penjajah, disuruh mendengarkan cerita untuk diambil hikmahnya saja malah bermain sendiri."
Seakan tersadar dari aktivitas masing-masing, kamipun tertawa bersama.
Mungkin inilah salah satu contoh kecil gambaran anak-anak Indonesia saat ini.
Pemuda Indonesia yang terlupa akan kewajibannya untuk memajukan Negara Indonesia.
Jangankan untuk memajukan Negara Indonesia.
Mungkin lafad Sumpah Pemuda saja banyak yang lupa.
Iya kn????
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar